Aksi Greenpeace di Monumen Selamat Datang Bundaran HI, Ini Sejarah dan Makna Ikon Jakarta

Table of Contents

jurnal asia - 

Bundaran Hotel Indonesia (HI) menjadi salah satu landmark yang melekat dengan wajah Kota Jakarta. Berada di pusat Ibu Kota, kawasan ini tidak hanya menjadi titik pertemuan arus lalu lintas dan aktivitas masyarakat, tetapi juga menyimpan sejarah panjang pembangunan Jakarta. 

Monumen Selamat Datang di Bundaran HI kembali menjadi sorotan setelah sejumlah anggota Greenpeace menggelar aksi protes dengan membentangkan spanduk berisi kritik terhadap pemerintah pada Selasa (20/10/2026). 

Dalam aksi tersebut, beberapa anggota Greenpeace turun dari monumen menggunakan tali yang telah disiapkan. Mereka mulai meluncur sekitar pukul 10.30 WIB, setelah terlebih dahulu melepaskan spanduk yang terpasang di monumen.

Dengan bantuan tali, para anggota Greenpeace turun dari bagian atas monumen hingga mencapai tepi kolam Bundaran HI.

Meski demikian, tidak semua peserta langsung turun. Sejumlah anggota masih terlihat bertahan di atas monumen, sementara tali yang digunakan dalam aksi tersebut sempat ditarik kembali. 

Petugas pemadam kebakaran dan kepolisian tampak bersiaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. 

Sejumlah polisi juga menyiapkan perahu karet di area kolam Bundaran HI selama aksi berlangsung.

Sejarah Bundaran HI, Berawal dari Gagasan Soekarno 

Di balik fungsinya sebagai pusat aktivitas masyarakat, Bundaran HI memiliki sejarah yang tidak terpisahkan dari gagasan Presiden pertama RI, Soekarno, untuk membangun citra Indonesia sebagai negara modern di mata dunia.

Mengutip informasi resmi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, gagasan pengembangan kawasan ini bermula pada 1958. Saat itu, Soekarno mencetuskan pembangunan Hotel Indonesia yang dirancang sebagai hotel berstandar internasional. 

Pembangunan hotel tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang baru merdeka dan tengah berbenah untuk menunjukkan kemajuan kepada masyarakat internasional. 

Di depan Hotel Indonesia, pemerintah kemudian membangun kawasan bundaran yang kini dikenal dengan nama Bundaran HI.

Pembangunannya dimulai pada 1961, seiring persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Pemerintah kala itu mengembangkan berbagai infrastruktur modern untuk mendukung penyelenggaraan ajang olahraga internasional tersebut. 

Proyek-proyek pembangunan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang mampu tampil dan bersaing di panggung internasional. 

Seiring berjalannya waktu, Bundaran HI berkembang menjadi salah satu ruang publik paling dikenal di Jakarta. 

Nilai sejarahnya tidak hanya terletak pada monumen yang berdiri di tengah bundaran, tetapi juga pada kawasan sekitarnya yang menjadi saksi perkembangan Ibu Kota selama puluhan tahun. 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Bundaran Hotel Indonesia sebagai struktur cagar budaya pada 5 April 2024 melalui Keputusan Gubernur Nomor 271 Tahun 2024.

Penetapan tersebut memperkuat status kawasan Bundaran HI sebagai bagian dari warisan sejarah Jakarta yang perlu dijaga kelestariannya. 

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, perlindungan terhadap cagar budaya diperlukan untuk mencegah kerusakan, kehancuran, maupun kemusnahan warisan budaya.

Berdasarkan penetapan tersebut, kawasan Bundaran HI memiliki luas delineasi sekitar 14.461 meter persegi. Area ini mencakup kawasan bundaran yang menjadi salah satu ruang publik penting di pusat Jakarta.

Tugu Selamat Datang, Simbol Keramahan Indonesia 

Ikon paling menonjol di kawasan Bundaran HI adalah Tugu Selamat Datang. Monumen ini menjadi penanda kawasan sekaligus menyampaikan pesan simbolis tentang keramahan Indonesia dalam menyambut tamu dari berbagai negara. 

Tugu Selamat Datang merupakan karya pematung Indonesia, Edhi Sunarso. Sementara itu, rancangan awal kawasan bundaran dikerjakan oleh Henk Ngantung, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. 

Monumen berbahan logam perunggu tersebut menampilkan sepasang figur manusia yang menggenggam bunga dan melambaikan tangan. Gestur itu melambangkan sambutan hangat bagi para peserta dan tamu Asian Games 1962 yang datang ke Jakarta.

Keberadaan patung tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran Jakarta sebagai tuan rumah ajang olahraga internasional. 

Tugu Selamat Datang menjadi representasi semangat Indonesia dalam menyambut para tamu sekaligus memperlihatkan identitas bangsa yang terbuka terhadap dunia. Monumen itu menghadap ke utara, ke arah kawasan Monumen Nasional (Monas). 

Orientasi tersebut berkaitan dengan konsep penyambutan bagi orang-orang yang memasuki pusat kota dari arah Bandara Kemayoran dan Pelabuhan Tanjung Priok.

Sumber: kompas.com

Posting Komentar