Kebakaran Pondok Produksi Gula Tebu di Nunukan, Kerugian Pekebun Capai Rp66,49 Juta
Table of Contents
Nunukan, jurnal asia–
Kebakaran menghanguskan pondok produksi gula tebu milik Kelompok Pekebun Tebu Laban Sakai di Desa Pa Raye, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Peristiwa tersebut mengakibatkan kerugian sekitar Rp 66,49 juta dan mengganggu aktivitas ekonomi kelompok pekebun di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 02.00 Wita. Api melahap bangunan pondok beserta sejumlah peralatan penting yang digunakan untuk memproduksi gula tebu.
Kecamatan Krayan Timur merupakan salah satu wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang masih menghadapi keterbatasan akses transportasi darat.
Pembangunan jalur darat, seperti ruas Malinau-Krayan dan jalan menuju sejumlah desa, termasuk Desa Wa'Yagung, belum sepenuhnya rampung.
Akibatnya, akses menuju wilayah tersebut kerap terganggu saat musim hujan karena jalan berlumpur dan terjadi longsor.
Minimnya konektivitas darat membuat warga sangat bergantung pada pesawat perintis untuk mobilitas dan pasokan logistik. Keterbatasan akses tersebut berdampak pada tingginya harga bahan pokok serta kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah perbatasan.
Berdasarkan laporan Pemerintah Kecamatan Krayan Timur tertanggal 3 November 2026 yang ditandatangani Camat Krayan Timur Marjuni, total kerugian materiil akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp 66.490.000.
Kerugian itu mencakup satu unit bangunan pondok beserta materialnya, berupa papan, balok, atap seng, dan paku, senilai Rp 10,69 juta.
Selain bangunan, kelompok pekebun juga kehilangan sejumlah aset produksi, antara lain satu unit mesin pemeras tebu senilai Rp 35 juta, satu unit mesin rumput, dua unit mesin chainsaw, tiga kuali masak berukuran besar, serta 60 keping atap seng cadangan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan Asmar menuturkan, kebakaran diduga kuat berasal dari sisa api pada tungku yang digunakan untuk memasak gula tebu.
"Sisa arang di tungku masak yang ditinggalkan dalam kondisi belum mati sepenuhnya, merembet, dan dengan cepat membakar bangunan pondok produksi,’’ ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/11/2026).
Asmar menyampaikan keprihatinannya atas kebakaran yang menimpa kelompok pekebun di wilayah perbatasan Krayan Timur tersebut.
"Kami telah menerima laporan musibah kebakaran pondok produksi gula tebu di Desa Pa Raye ini. Kami sangat prihatin karena kejadian ini berdampak langsung pada mata pencaharian dan sektor ekonomi produktif masyarakat lokal di sana," kata Asmar.
BPBD Kabupaten Nunukan mulai berkoordinasi secara internal dan melakukan asesmen lebih lanjut untuk menentukan langkah penanganan, termasuk kemungkinan pemberian bantuan logistik atau bantuan stimulan guna meringankan beban kerugian para korban.
Asmar juga mengimbau para pelaku usaha perkebunan dan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran akibat kelalaian.
Ia secara khusus mengingatkan pelaku usaha komoditas lokal yang masih menggunakan metode pembakaran tradisional atau tungku masak agar memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan tempat produksi.
‘’Pengawasan ekstra sangat diperlukan demi mencegah kejadian serupa terulang kembali," kata Asmar.
Sumber: regional.kompas.com

Posting Komentar