jurnal asia -
Batuk dan pilek merupakan keluhan yang cukup sering dialami anak-anak. Meski umumnya berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan, orangtua tetap perlu memperhatikan keluhan yang disertai infeksi pada tenggorokan.
Sebab, infeksi tenggorokan akibat bakteri tertentu dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak pada kesehatan jantung. Salah satunya adalah penyakit jantung rematik atau rheumatic heart disease.
Dalam acara Konferensi Ilmiah CARES Heartology yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu (31/10/2026), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Puti Sarah Saus, Sp.JP(K), Consultant Cardiologist dan Interventional Cardiologist, menjelaskan bahwa penyakit jantung rematik dapat berawal dari infeksi tenggorokan yang kemudian berdampak pada jantung.
Menurutnya, kondisi tersebut masih perlu mendapat perhatian, terutama di negara berkembang yang masih menghadapi kasus penyakit jantung akibat gangguan katup.
"Jadi, kalau rheumatic heart disease itu penyakit yang infeksi dari tenggorokan yang bisa masuk ke jantung," kata Puti saat diwawancarai Kompas.com.
Bagaimana infeksi tenggorokan bisa berdampak pada jantung? Puti menjelaskan, penyakit jantung rematik berkaitan dengan infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan. Salah satu bakteri yang dapat menjadi penyebabnya adalah bakteri Streptococcus.
Bakteri tersebut dapat tertular melalui percikan air liur seseorang yang memiliki sakit radang tenggorokan atau batuk pilek.
"Biasanya ya itu, kalau dia batuk pilek itu dia bisa langsung kena," ujarnya. Infeksi tersebut dapat memicu respons sistem kekebalan tubuh atau autoimun yang kemudian berdampak pada jaringan jantung dan berakibat bagian katup jantung dapat mengalami kerusakan.
"Dan di jantung tadi itu dia bisa mengakibatkan katupnya tadi menjadi kaku. Sehingga kalau kaku, jadi otomatis gangguan di katup jantungnya tadi," jelas Puti.
Gangguan pada katup jantung dapat berupa katup yang mengalami penyempitan atau kebocoran. Kondisi ini membuat fungsi katup dalam mengatur aliran darah menjadi terganggu.
Puti menambahkan, penyakit tersebut dapat dialami anak-anak maupun orang dewasa. Namun, proses terjadinya penyakit jantung rematik sering kali bermula sejak seseorang masih berusia anak-anak.
Ia juga menyebutkan bahwa kondisi daya tahan tubuh dan status gizi dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan risiko infeksi. "Apalagi yang kurang gizi makin kurang lagi kan daya tahan tubuhnya tersebut," ujarnya.
Mengapa infeksi pada anak tidak boleh dianggap sepele? Menurut Puti, kasus penyakit jantung rematik masih ditemukan di sejumlah daerah dan tidak semuanya terdeteksi sejak awal.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemeriksaan atau skrining pada tahap awal. Padahal, gangguan katup jantung akibat penyakit rematik dapat berkembang dalam waktu lama. Anak yang mengalami infeksi pada masa kecil bisa baru menunjukkan keluhan setelah beberapa tahun kemudian.
Puti menilai, peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan diperlukan agar kondisi tersebut dapat dikenali lebih dini.
"Biasanya kan sudah lama. Jadi biasanya kan anaknya itu sudah berapa tahun kemudian terbentuk dan dia mengalami keluhan. Biasanya kan tidak screening awal," tuturnya.
Ia menambahkan, pasien yang dicurigai mengalami kelainan katup perlu menjalani pemeriksaan lebih terperinci untuk mengetahui kondisi jantungnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat menilai apakah pasien membutuhkan tindakan medis lebih lanjut. Penanganannya pun tidak selalu harus melalui operasi terbuka karena saat ini tersedia prosedur intervensi menggunakan kateter.
Karena itu, orangtua perlu memperhatikan keluhan infeksi pada anak dan tidak mengabaikan gejala yang berlangsung atau memburuk. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab infeksi serta menentukan penanganan yang tepat.
Posting Komentar